Home » » Kekuatan Pihak Korawa

Kekuatan Pihak Korawa

Bismillaahirrahmaanirrahiim - By : PUSAT PEMBUATAN MINYAK KECETIT SURABAYA | Call : 0878 5508 1688

PUSAT PEMBUATAN MINYAK KECETIT SURABAYA

Sengkuni Otaknya Para Korawa

Duryodana dengan kelicikannya meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak akan tega menyakiti para Pandawa.

Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan membiarkannya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya.

Bisma juga tidak ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah daripada kastanya.

Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai Panglima Tertinggi pasukan Korawa.

  • Pasukan KORAWA dibagi menjadi 11 Divisi dengan total pasukan 2.405.700 prajurit.
  • 100 (Seratus Korawa) dipimpin oleh Duryodana sendiri bersama dengan adiknya Dursasana, putera kedua Dretarastra,
  • Dan dalam pertempuran tersebut Korawa dibantu oleh Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa... Jayadrata, serta guru mereka... Krepa.
  • Selain itu, turut pula Kertawarma dari Wangsa Yadawa, Salya dari Madra, Sudaksina dari Kamboja, Burisrawa putra Somadatta, Raja Bahlika, Sangkuni dari Gandhara, Wrehadbala Raja Kosala, Winda dan Anuwinda dari Awanti.
  • Dan masih banyak lagi para ksatria dan raja yang memihak Korawa demi Hastinapura maupun Dretarastra.
Divisi Pasukan dan Persenjataan

Pasukan tersebut dibagi ke dalam aksohini (divisi) dengan Perbandingan jumlah mereka adalah 1:1:3:5. Setiap aksohini berjumlah 218.700 prajurit yang terdiri dari :
  • 21.870 pasukan berkereta kuda.
  • 21.870 pasukan penunggang gajah.
  • 65.610 pasukan penunggang kuda.
  • 109.350 tentara darat (infantri).

PERSENJATAAN :

Senjata yang digunakan dalam perang di Kurukshetra merupakan senjata kuno dan primitif, contohya... panah, tombak, pedang, golok, kapak-perang, gada, dan sebagainya.

Para ksatria terkemuka seperti Arjuna, Bisma, Karna, Aswatama, Drona, dan Abimanyu, memilih senjata panah karena sesuai dengan keahlian mereka. Bima dan Duryodana memilih senjata gada untuk bertarung. Meskipun demikian, tidak selamanya ksatria tersebut hanya menggunakan satu jenis senjata saja. Kadangkala, Bima menggunakan panah, sedangkan Abimanyu menggunakan pedang.

ATURAN PERANG

Dua pemimpin tertinggi dari kedua belah pihak bertemu dan membuat "peraturan tentang perlakuan yang etis" (Dharmayuddha) sebagai aturan perang. Peraturan tersebut sebagai berikut :
  • Pertempuran harus dimulai setelah matahari terbit dan harus segera dihentikan saat matahari terbenam.
  • Pertempuran satu lawan satu; tidak boleh mengeroyok prajurit yang sedang sendirian.
  • Dua kesatria boleh bertempur secara pribadi jika mereka memiliki senjata yang sama atau menaiki kendaraan yang sama (kuda, gajah, atau kereta).
  • Tidak boleh membunuh prajurit yang menyerahkan diri.
  • Seseorang yang menyerahkan diri harus menjadi tawanan perang atau budak.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.
  • Tidak boleh menyerang wanita.
  • Tidak boleh menyerang hewan yang tidak dianggap sebagai ancaman langsung.

Peraturan khusus yang dibuat untuk setiap senjata mesti diikuti. Sebagai contoh, dilarang memukul bagian pinggang ke bawah pada saat bertarung menggunakan gada.

Bagaimanapun juga, para kesatria tidak boleh berjanji untuk berperang dengan curang. Meskipun aturan perang telah disepakati, banyak prajurit dan kesatria dari kedua belah pihak yang melanggarnya, dan tidak jarang mereka melakukannya.

FORMASI MILITER

Formasi militer adalah hal yang penting untuk mencapai kemenangan dalam peperangan. Dengan formasi yang baik dan sempurna, maka musuh juga lebih mudah ditaklukkan. Ada beberapa formasi militer yang disebutkan dalam Mahabharata, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Beberapa macam formasi militer tersebut sebagai berikut :
  • Krauncabyuha (formasi bangau).
  • Cakrabyuha (formasi cakram/melingkar).
  • Kurmabyuha (formasi kura-kura).
  • Makarabyuha (formasi buaya).
  • Trisulabyuha (formasi trisula).
  • Sarpabyuha (formasi ular).
  • Kamalabyuha atau Padmabyuha (formasi teratai).

Sulit mengindikasi dengan tepat makna dari nama-nama formasi tersebut. Nama formasi mungkin saja mengindikasi bahwa sebuah pasukan memilih suatu bentuk tertentu (seperti elang, bangau, dll.) sebagai formasi, atau mungkin saja nama suatu formasi berarti strategi mereka mirip dengan suatu hewan/hal tertentu.


--- oOo ---

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_di_Kurukshetra

0 komentar:

Posting Komentar